Essay Writer | Choose Tab to Read

Kota Pekalongan, Jawa Tengah
Pinned Tweet
Penyataan “pakar saking pinternya jadi goblok” pada acara HUT PAN kemarin menuai reaksi yang keras dari banyak pihak, termasuk saya karena statement menurutku tidak pantas dilontarkan oleh seorang presiden. Dan entah kenapa, saya selalu merasa kesal ketika Prabowo berada di atas podium dan melakukan pidato. Kenapa? Karena saya selalu menerka, “kalimat apa lagi yang akan diucapkan oleh Prabowo, yang pada akhirnya akan membuat gaduh?” Namun, di sela sakit hati yang saya rasakan karena pernyataan itu, saya juga tertarik untuk menyelami karakteristik kepemimpinan Prabowo Subianto yang menurut saya sangat populis. Esai ini lumayan panjang karena lebih dari 1.700 kata, namun tulisan ini menurut saya cukup untuk memahami karakter Prabowo sehingga kita jadi lebih tahu dan paham dengan apa yang akan kita lakukan jika kakek itu melakukan hal yang sama lagi di lain waktu. Populisme ala Prabowo Subianto Mede & Schafer (2020) dalam Public Understanding of Science membedakan dua klaim yang direbut dari ilmuwan, yaitu kedaulatan memutuskan (decision-making sovereignty) dan kedaulatan berbicara benar (truth-speaking sovereignty). Kedua hal itu, merupakan konsep inti yang membentuk teori populisme terkait sains (science-related populism). Kedaulatan memutuskan dalam konteks sains merujuk pada hak dan otoritas penuh untuk menentukan arah kebijakan, agenda riset, penggunaan anggaran, serta regulasi ilmiah. Dalam perspektif populisme, kaum populis (sebut saja Prabowo Subianto) menilai bahwa para ilmuwan bekerja "di balik pintu tertutup" (ivory tower) tanpa adanya pengawasan publik, di mana mereka menuntut agar kedaulatan ini dikembalikan kepada rakyat. Menurut dia, masyarakat bawahlah yang seharusnya menentukan nilai maupun manfaat dari program pirotitas pemerintah, bukan pakar dan akademisi yang dibilang “sok tau” olehnya. Sedangkan kedaulatan berbicara benar, merujuk pada hak eksklusif untuk mendefinisikan apa yang disebut sebagai "pengetahuan yang valid" atau mengklaim suatu kebenaran (truth claims) tentang “realita di lapangan”. Kaum populis menantang klaim kebenaran tersebut, karena mereka menganggap klaim superioritas ilmu pengetahuan sebagai bentuk arogansi elite akademik yang mengesampingkan pengalaman sehari-hari, kearifan lokal, intuisi (gut feelings), dan akal sehat (common sense) rakyat biasa. Dalam pandangan ini, klaim kebenaran dari seorang ahli tidak boleh dinilai lebih tinggi daripada pandangan atau keyakinan yang dianut oleh masyarakat umum (yang menilai bahwa program MBG bermanfaat). Tantangan terhadap kedua kedaulatan ini sering kali memicu penolakan massal terhadap konsensus ilmiah, seperti dalam isu perubahan iklim, program vaksinasi, atau kebijakan kesehatan publik, di mana kebijakan para pakar dianggap mengabaikan suara dan hak-hak dasar masyarakat umum (misalnya narasi “demi kebaikan bersama”). -Sebuah Esai-
8
16
49
28,756
Lebih mirip selfharm pake spidol yang udah mau abis🤣selfharm mah minimal cutter, dan bekas lukanya gak kek gitu.
dulu dony salmanan keluar penjara dapet ratusan juta dari exclusive karna mau cerita sesuatu. sekarang indra kenz di storynya liatin bekas luka di bagian lengan bawah, dan mau cerita hanya untuk di live exclusive. enak yak jd influencer keluar tahanan auto bisa dapet ratusan juta dari exclusive. apakah sebenarnya ini kunci sukses??? 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
7
2,707
Pemain bokep homo kena ciduk lagi💯 Infonya ybs bernama rifaiju, memproduksi film cabul sesamanya dan diperjualbelikan.
1
7
5,002
Gimana ya gue jelasin ke bocil vintage biar ga tantrum? Batu bara itu sumber polusi, kalau diubah jadi bensin, masalahnya tidak akan hilang dan malah bisa bertambah. Kenapa? Karena proses gasifikasi dan konversinya boros energi. Banyak karbon yang terbuang jadi CO₂ di pabrik, belum termasuk yang keluar saat bensin itu dibakar di kendaraan. Studi siklus hidup menunjukkan bahwa emisi “well-to-wheel”-nya biasanya 1,8–2,5 kali lebih tinggi daripada bensin dari minyak bumi. Proses mengubah batu bara jadi BBM butuh energi besar, akibatnya emisi gas rumah kaca dari “bensin batu bara” bisa hampir 2 kali lipat dibanding bensin biasa. Kenapa? Karena yang keluar dari knalpot tetaplah polusi, dan yang keluar dari pabriknya juga polusi bahkan lebih banyak. Yang ngasih ide siapa sih? Cukong batu bara kah?
2
2
15
1,426
Emangnya gak ada aktor selain dia?
What do u think gess???
1
3
1,455
Ah kalo ini mah jangankan cewe, buna tedi sang penguasa juga bakal nyut2an bool dia. Coba kira2 yang pada hujat koko seto bakal hujat koko rivaldi juga gak yaaaa🤣
24
12
178
53,605
Tolong diusut pondok pesantren mana @Poldametrojaya_ karena ini namanya ekspolitasi, apalagi itu anak masih di bawah umur. Investigasi, cabut izinnya. Anak mondok biar dapat ilmu, malah jadi babu. Kontol
106
1,513
5,345
131,066
Mabok lu, wok? Pidato lu gak usah dipelintir juga udah melintir sendiri, lawong komunikasi publik kelen aja ancur. Lain kali tuh gausah punya pikiran: mentang2 berkuasa, terus bisa bicara seenak sendiri tanpa mematuhi etika sebagai pejabat publik. Rakyat lu tuh ada banyak macamnya. Ada yang baperan, adanya gampang tantrum, ada yang suka pake diksi kasat kek elu dan masih banyak lagi. Kalo elu mau kekeuh sama "karakter" ketika memimpin, yaudah selow aja. Tapi bedain ketika elu berada di depan babu-babu lu, sama berada di depan masyarakat umum.
7
14
45
2,444
Bukan jadi wahabi, tapi pertanyaannya yang spesifik mengarah ke sana. Padahal kita semua tahu, bahwa ada yang namanya asbabun nuzul. Masa iya menyamakan ayat yang diturunkan khusus untuk waktu tertentu, tapi diberlakukan juga untuk waktu yang intervalnya sangat jauh seperti saat ini? Kalo ditanya "siapa yang persis sama Muhammad", ya mayoritas menjawab pemuka agama dari salafi maupun wahabi. AI-nya pinter, tapi yang tanya dan ngambil kesimpulan BODOH. Gue yang ga paham banget soal agama aja tau tentang ini🗿
Meta AI sudah menjadi WAHABI. Gawat!!
1
1
1
6,628
Pengamatan pribadi: Banyak nasabah Mekar yang seharusnya tidak lolos Kelayakan Kredit, tapi dilolosin demi target tertentu. Mirisnya, nasabah yang gak layak dilolosin dengan catatan akan memberikan "fee" ke surveyor. Skema kayak gini bukan barang baru, dan hasilnya pasti terjadi tunggakan hingga kredit macet. Emang udah bobrok aja negara ini.
MEMBENTAK WANITA DAN MEMUKUL WANITA DENGAN MENGGUNAKAN SANDAL SAAT HUTANG NYA DI TAGIH MIRIS BIADAB
1
3
16
2,308
Astagfirullah, serius seorang guru begini?
Udah mah yang straight banyak yang cabul, ditambah yang gay pedofil. Suram amat dunia pendidikan negara ini
3
7
73
23,122
Udah mah yang straight banyak yang cabul, ditambah yang gay pedofil. Suram amat dunia pendidikan negara ini
14
25
253
63,732
Persis seperti apa yang saya tulis di esai ini, bahwa berkata kasar dan blak-blakan adalah ciri khas Prabowo. Tapi yang sedikit mau saya bahas di sini yaitu, bagaimana bisa pakar-akademisi yang mengkritik dibilang GOBLOK hanya karena tidak selaras dengan idenya Prabowo? Presiden punya ide tentang MBG dan KDMP sah-sah saja, presiden ingin mensejahterakan rakyat juga sah-sah saja, TAPI yang terlewatkan oleh Prabowo melalui makiannya adalah bahwa eksekusi ide-ide itu di lapangan melenceng dari jalur. THAT'S THE POINT. Keracunan di program MBG, mark-up pengadaan di KDMP serta operasional MBG, merupakan bukti nyata bahwa terjadi penyelewengan terhadap ide-ide Prabowo. Apakah salah jika banyak pihak yang melontarkan kritik? Apakah salah jika banyak pihak "menggurui" Prabowo agar tidak terjadi penyelewengan? Ketika rasa peduli masyarakat lewat kritik dibalas dengan makian, apakah pantas seorang presiden melakukan itu? That's the another point. Mengkritik carut-marut pada pelaksaan MBG dan KDMP bukan otomatis tidak setuju dengan program itu, tapi lebih ke "yok benahin yok agar masyarakat tidak dirugikan serta menjadi korban." As simple as that, ndut @prabowo
Penyataan “pakar saking pinternya jadi goblok” pada acara HUT PAN kemarin menuai reaksi yang keras dari banyak pihak, termasuk saya karena statement menurutku tidak pantas dilontarkan oleh seorang presiden. Dan entah kenapa, saya selalu merasa kesal ketika Prabowo berada di atas podium dan melakukan pidato. Kenapa? Karena saya selalu menerka, “kalimat apa lagi yang akan diucapkan oleh Prabowo, yang pada akhirnya akan membuat gaduh?” Namun, di sela sakit hati yang saya rasakan karena pernyataan itu, saya juga tertarik untuk menyelami karakteristik kepemimpinan Prabowo Subianto yang menurut saya sangat populis. Esai ini lumayan panjang karena lebih dari 1.700 kata, namun tulisan ini menurut saya cukup untuk memahami karakter Prabowo sehingga kita jadi lebih tahu dan paham dengan apa yang akan kita lakukan jika kakek itu melakukan hal yang sama lagi di lain waktu. Populisme ala Prabowo Subianto Mede & Schafer (2020) dalam Public Understanding of Science membedakan dua klaim yang direbut dari ilmuwan, yaitu kedaulatan memutuskan (decision-making sovereignty) dan kedaulatan berbicara benar (truth-speaking sovereignty). Kedua hal itu, merupakan konsep inti yang membentuk teori populisme terkait sains (science-related populism). Kedaulatan memutuskan dalam konteks sains merujuk pada hak dan otoritas penuh untuk menentukan arah kebijakan, agenda riset, penggunaan anggaran, serta regulasi ilmiah. Dalam perspektif populisme, kaum populis (sebut saja Prabowo Subianto) menilai bahwa para ilmuwan bekerja "di balik pintu tertutup" (ivory tower) tanpa adanya pengawasan publik, di mana mereka menuntut agar kedaulatan ini dikembalikan kepada rakyat. Menurut dia, masyarakat bawahlah yang seharusnya menentukan nilai maupun manfaat dari program pirotitas pemerintah, bukan pakar dan akademisi yang dibilang “sok tau” olehnya. Sedangkan kedaulatan berbicara benar, merujuk pada hak eksklusif untuk mendefinisikan apa yang disebut sebagai "pengetahuan yang valid" atau mengklaim suatu kebenaran (truth claims) tentang “realita di lapangan”. Kaum populis menantang klaim kebenaran tersebut, karena mereka menganggap klaim superioritas ilmu pengetahuan sebagai bentuk arogansi elite akademik yang mengesampingkan pengalaman sehari-hari, kearifan lokal, intuisi (gut feelings), dan akal sehat (common sense) rakyat biasa. Dalam pandangan ini, klaim kebenaran dari seorang ahli tidak boleh dinilai lebih tinggi daripada pandangan atau keyakinan yang dianut oleh masyarakat umum (yang menilai bahwa program MBG bermanfaat). Tantangan terhadap kedua kedaulatan ini sering kali memicu penolakan massal terhadap konsensus ilmiah, seperti dalam isu perubahan iklim, program vaksinasi, atau kebijakan kesehatan publik, di mana kebijakan para pakar dianggap mengabaikan suara dan hak-hak dasar masyarakat umum (misalnya narasi “demi kebaikan bersama”). -Sebuah Esai-
30
30
134
23,578
Mau gue maki2 takutnya konten AI🗿
Kenapa makin ke sini makin banyak oknum pendidik yang ga punya etika gini ya? Muridnya jelas masih di bawah umur tapi malah dijadikan objek konten. Yang kayak gini wajib dicabut izin ngajarnya, ga selayaknya ada di lingkungan sekolah.
2
4
9
2,801
Stres banget anj Kasat tolol. Bisa2nya korban gak boleh nangis? Korban pemerkosaan merasakan trauma, merasa takut, wajar kalo dia nangis malah dibentak. Sialan emang. Pelaku pemerkosaan bukannya dihukum penjara malah nyuruh mediasi, otak lo di silit ta?
448
5,019
10,208
267,315
Bisa dibaca guys
Sejatinya, seorang pemimpin yang pintar adalah sebuah keharusan, karena kemampuan dalam manajerial sangatlah penting terlebih jika menyangkut hajat hidup orang banyak. Namun, KDM atau Dedi Mulyadi dalam unggahannya di platform thread, mengatakan bahwa “lebih baik bodoh tapi jujur, daripada pintar tapi menggasak uang rakyat.” Jika kalimat itu dicerna oleh orang bodoh, tentu orang-orang bodoh itu akan setuju dengan pernyataan KDM, bahkan sangat mendukung paradigma berpikirnya itu. Padahal pernyataan itu masuk ke dalam FALSE DILEMMA atau black-or-white fallacy, di mana pernyataan itu juga mengandung generalisasi yang terburu-buru. Pengalaman buruk dengan sebagian orang “pintar” (kasus Bank Jabar yang sempat nyaris merugi triliunan, misalnya) dijadikan seolah-olah sifat umum orang pintar. Memilih antara “bodoh tapi jujur” vs “pintar tapi korup” adalah jebakan, yang mana menurut saya, seharusnya yang dicari adalah orang yang pintar sekaligus jujur. Nah yang jadi pertanyaan, jika ada pilihan “pintar dan jujur” kenapa KDM memilih “bodoh tapi jujur”? Apa sih yang membuat saya akhirnya membuat tulisan tentang ini? Mengingat tingkat literasi dan IQ masyarakat Indonesia yang rendah, pernyataan itu sangat berbahaya jika disetujui oleh banyak orang. Pertama, anti-intelektualisme dijadikan norma politik, sehingga masyarakat mulai lebih suka pemimpin yang “sederhana”, “merakyat”, dan kelihatan jujur ketimbang yang kompeten karena kecerdasan dan keahlian dicurigai secara otomatis membawa niat jahat. Kedua, banyak orang akan menganggap bahwa inkompetensi dianggap lebih baik daripada korupsi. Padahal, pemimpin yang bodoh tapi “jujur” tetap bisa merugikan rakyat besar-besaran melalui keputusan yang salah, proyek gagal, kebijakan yang tidak tepat sasaran, atau tidak mampu mengelola isu kompleks (ekonomi, teknologi, lingkungan, hubungan internasional). Kerugian karena kebodohan sering tidak terlihat seperti korupsi, namun dampaknya bisa sama atau bahkan lebih besar dalam jangka panjang. Ketiga, akan terjadi fenomena opsi terbaik diabaikan padahal negara justru butuh orang yang pintar dan jujur. Jika masyarakat sudah percaya bahwa “orang pintar itu berbahaya”, orang-orang yang berkualitas tinggi jadi enggan untuk masuk ke ranah politik/birokrasi karena takut dicurigai. Keempat, jika statement tadi dipercayai oleh banyak orang maka masyarakat kita akan mudah dimanfaatkan oleh kaum populisme. Figur yang pandai tampil lugu, rendah hati, dan “jujur” bisa naik meski kapasitasnya minim. Nah yang lebih berbahaya adalah, orang bodoh yang jujur mudah dikendalikan oleh orang pintar yang jahat di belakang layar. Jika yang dicari bukan lagi kompetensi serta integritas, tapi “kesan jujur” dan kedekatan emosional, maka standar pejabat akan menurun. Padahal, “jujur” itu sulit diukur secara objektif dan mudah dipalsukan lewat pencitraan. Bagaimana Bisa Orang Bodoh jadi Gubernur? Ditulis oleh Hara Nirankara
1
135
Lah tolol kenapa malah mendesak KPI? Yang harusnya didesak tuh prabowo biar mulutnya gak bocor mulu. Heran tiap kali pidato pasti muncul kegaduhan. Giliran sipil yang bikin gaduh kena ciduk aparat🤣🖕
139
1,838
5,390
152,696
Bisa dibaca guys
Sejatinya, seorang pemimpin yang pintar adalah sebuah keharusan, karena kemampuan dalam manajerial sangatlah penting terlebih jika menyangkut hajat hidup orang banyak. Namun, KDM atau Dedi Mulyadi dalam unggahannya di platform thread, mengatakan bahwa “lebih baik bodoh tapi jujur, daripada pintar tapi menggasak uang rakyat.” Jika kalimat itu dicerna oleh orang bodoh, tentu orang-orang bodoh itu akan setuju dengan pernyataan KDM, bahkan sangat mendukung paradigma berpikirnya itu. Padahal pernyataan itu masuk ke dalam FALSE DILEMMA atau black-or-white fallacy, di mana pernyataan itu juga mengandung generalisasi yang terburu-buru. Pengalaman buruk dengan sebagian orang “pintar” (kasus Bank Jabar yang sempat nyaris merugi triliunan, misalnya) dijadikan seolah-olah sifat umum orang pintar. Memilih antara “bodoh tapi jujur” vs “pintar tapi korup” adalah jebakan, yang mana menurut saya, seharusnya yang dicari adalah orang yang pintar sekaligus jujur. Nah yang jadi pertanyaan, jika ada pilihan “pintar dan jujur” kenapa KDM memilih “bodoh tapi jujur”? Apa sih yang membuat saya akhirnya membuat tulisan tentang ini? Mengingat tingkat literasi dan IQ masyarakat Indonesia yang rendah, pernyataan itu sangat berbahaya jika disetujui oleh banyak orang. Pertama, anti-intelektualisme dijadikan norma politik, sehingga masyarakat mulai lebih suka pemimpin yang “sederhana”, “merakyat”, dan kelihatan jujur ketimbang yang kompeten karena kecerdasan dan keahlian dicurigai secara otomatis membawa niat jahat. Kedua, banyak orang akan menganggap bahwa inkompetensi dianggap lebih baik daripada korupsi. Padahal, pemimpin yang bodoh tapi “jujur” tetap bisa merugikan rakyat besar-besaran melalui keputusan yang salah, proyek gagal, kebijakan yang tidak tepat sasaran, atau tidak mampu mengelola isu kompleks (ekonomi, teknologi, lingkungan, hubungan internasional). Kerugian karena kebodohan sering tidak terlihat seperti korupsi, namun dampaknya bisa sama atau bahkan lebih besar dalam jangka panjang. Ketiga, akan terjadi fenomena opsi terbaik diabaikan padahal negara justru butuh orang yang pintar dan jujur. Jika masyarakat sudah percaya bahwa “orang pintar itu berbahaya”, orang-orang yang berkualitas tinggi jadi enggan untuk masuk ke ranah politik/birokrasi karena takut dicurigai. Keempat, jika statement tadi dipercayai oleh banyak orang maka masyarakat kita akan mudah dimanfaatkan oleh kaum populisme. Figur yang pandai tampil lugu, rendah hati, dan “jujur” bisa naik meski kapasitasnya minim. Nah yang lebih berbahaya adalah, orang bodoh yang jujur mudah dikendalikan oleh orang pintar yang jahat di belakang layar. Jika yang dicari bukan lagi kompetensi serta integritas, tapi “kesan jujur” dan kedekatan emosional, maka standar pejabat akan menurun. Padahal, “jujur” itu sulit diukur secara objektif dan mudah dipalsukan lewat pencitraan. Bagaimana Bisa Orang Bodoh jadi Gubernur? Ditulis oleh Hara Nirankara
402
Sejatinya, seorang pemimpin yang pintar adalah sebuah keharusan, karena kemampuan dalam manajerial sangatlah penting terlebih jika menyangkut hajat hidup orang banyak. Namun, KDM atau Dedi Mulyadi dalam unggahannya di platform thread, mengatakan bahwa “lebih baik bodoh tapi jujur, daripada pintar tapi menggasak uang rakyat.” Jika kalimat itu dicerna oleh orang bodoh, tentu orang-orang bodoh itu akan setuju dengan pernyataan KDM, bahkan sangat mendukung paradigma berpikirnya itu. Padahal pernyataan itu masuk ke dalam FALSE DILEMMA atau black-or-white fallacy, di mana pernyataan itu juga mengandung generalisasi yang terburu-buru. Pengalaman buruk dengan sebagian orang “pintar” (kasus Bank Jabar yang sempat nyaris merugi triliunan, misalnya) dijadikan seolah-olah sifat umum orang pintar. Memilih antara “bodoh tapi jujur” vs “pintar tapi korup” adalah jebakan, yang mana menurut saya, seharusnya yang dicari adalah orang yang pintar sekaligus jujur. Nah yang jadi pertanyaan, jika ada pilihan “pintar dan jujur” kenapa KDM memilih “bodoh tapi jujur”? Apa sih yang membuat saya akhirnya membuat tulisan tentang ini? Mengingat tingkat literasi dan IQ masyarakat Indonesia yang rendah, pernyataan itu sangat berbahaya jika disetujui oleh banyak orang. Pertama, anti-intelektualisme dijadikan norma politik, sehingga masyarakat mulai lebih suka pemimpin yang “sederhana”, “merakyat”, dan kelihatan jujur ketimbang yang kompeten karena kecerdasan dan keahlian dicurigai secara otomatis membawa niat jahat. Kedua, banyak orang akan menganggap bahwa inkompetensi dianggap lebih baik daripada korupsi. Padahal, pemimpin yang bodoh tapi “jujur” tetap bisa merugikan rakyat besar-besaran melalui keputusan yang salah, proyek gagal, kebijakan yang tidak tepat sasaran, atau tidak mampu mengelola isu kompleks (ekonomi, teknologi, lingkungan, hubungan internasional). Kerugian karena kebodohan sering tidak terlihat seperti korupsi, namun dampaknya bisa sama atau bahkan lebih besar dalam jangka panjang. Ketiga, akan terjadi fenomena opsi terbaik diabaikan padahal negara justru butuh orang yang pintar dan jujur. Jika masyarakat sudah percaya bahwa “orang pintar itu berbahaya”, orang-orang yang berkualitas tinggi jadi enggan untuk masuk ke ranah politik/birokrasi karena takut dicurigai. Keempat, jika statement tadi dipercayai oleh banyak orang maka masyarakat kita akan mudah dimanfaatkan oleh kaum populisme. Figur yang pandai tampil lugu, rendah hati, dan “jujur” bisa naik meski kapasitasnya minim. Nah yang lebih berbahaya adalah, orang bodoh yang jujur mudah dikendalikan oleh orang pintar yang jahat di belakang layar. Jika yang dicari bukan lagi kompetensi serta integritas, tapi “kesan jujur” dan kedekatan emosional, maka standar pejabat akan menurun. Padahal, “jujur” itu sulit diukur secara objektif dan mudah dipalsukan lewat pencitraan. Bagaimana Bisa Orang Bodoh jadi Gubernur? Ditulis oleh Hara Nirankara
4
9
11
2,510
Saya lampirkan bukti biar tidak kena delik UU ITE, hehehe.
2
2
278
Ya gak berdampak apa2 buat rakyat. Kita masih harus nyari duit sendiri buat makan esok hari. Biarin aja yang atas gontok2an
prabowo diminta cari 2 nama cawapres pengganti gibran 🤯 𖥔 keabsahan gibran sebagai wapres digugat oleh forum purnawirawan, partai ummat, & KIPP 𖥔 para pemohon minta MK menggugurkan gibran krn pendidikannya ga memenuhi syarat sebagai cawapres 2024 lalu 𖥔 prabowo akan mengajukan 2 nama wakil pengganti gibran ke MPR kalau gugatan dikabulakan 𖥔 MPR akan menyelenggarakan sidang untuk memilih 2 wapres yg diajukan prabowo 𖥔 selambat-lambatnya 60 hari sejak putusan dibacakan kalau sampai ini dikabulkan, dampaknya ke rakyat bakal kayak gimana menurut kalian?
3
1,799