Sejatinya, seorang pemimpin yang pintar adalah sebuah keharusan, karena kemampuan dalam manajerial sangatlah penting terlebih jika menyangkut hajat hidup orang banyak. Namun, KDM atau Dedi Mulyadi dalam unggahannya di platform thread, mengatakan bahwa “lebih baik bodoh tapi jujur, daripada pintar tapi menggasak uang rakyat.”
Jika kalimat itu dicerna oleh orang bodoh, tentu orang-orang bodoh itu akan setuju dengan pernyataan KDM, bahkan sangat mendukung paradigma berpikirnya itu. Padahal pernyataan itu masuk ke dalam FALSE DILEMMA atau black-or-white fallacy, di mana pernyataan itu juga mengandung generalisasi yang terburu-buru. Pengalaman buruk dengan sebagian orang “pintar” (kasus Bank Jabar yang sempat nyaris merugi triliunan, misalnya) dijadikan seolah-olah sifat umum orang pintar.
Memilih antara “bodoh tapi jujur” vs “pintar tapi korup” adalah jebakan, yang mana menurut saya, seharusnya yang dicari adalah orang yang pintar sekaligus jujur. Nah yang jadi pertanyaan, jika ada pilihan “pintar dan jujur” kenapa KDM memilih “bodoh tapi jujur”?
Apa sih yang membuat saya akhirnya membuat tulisan tentang ini? Mengingat tingkat literasi dan IQ masyarakat Indonesia yang rendah, pernyataan itu sangat berbahaya jika disetujui oleh banyak orang. Pertama, anti-intelektualisme dijadikan norma politik, sehingga masyarakat mulai lebih suka pemimpin yang “sederhana”, “merakyat”, dan kelihatan jujur ketimbang yang kompeten karena kecerdasan dan keahlian dicurigai secara otomatis membawa niat jahat.
Kedua, banyak orang akan menganggap bahwa inkompetensi dianggap lebih baik daripada korupsi. Padahal, pemimpin yang bodoh tapi “jujur” tetap bisa merugikan rakyat besar-besaran melalui keputusan yang salah, proyek gagal, kebijakan yang tidak tepat sasaran, atau tidak mampu mengelola isu kompleks (ekonomi, teknologi, lingkungan, hubungan internasional). Kerugian karena kebodohan sering tidak terlihat seperti korupsi, namun dampaknya bisa sama atau bahkan lebih besar dalam jangka panjang.
Ketiga, akan terjadi fenomena opsi terbaik diabaikan padahal negara justru butuh orang yang pintar dan jujur. Jika masyarakat sudah percaya bahwa “orang pintar itu berbahaya”, orang-orang yang berkualitas tinggi jadi enggan untuk masuk ke ranah politik/birokrasi karena takut dicurigai. Keempat, jika statement tadi dipercayai oleh banyak orang maka masyarakat kita akan mudah dimanfaatkan oleh kaum populisme. Figur yang pandai tampil lugu, rendah hati, dan “jujur” bisa naik meski kapasitasnya minim. Nah yang lebih berbahaya adalah, orang bodoh yang jujur mudah dikendalikan oleh orang pintar yang jahat di belakang layar.
Jika yang dicari bukan lagi kompetensi serta integritas, tapi “kesan jujur” dan kedekatan emosional, maka standar pejabat akan menurun. Padahal, “jujur” itu sulit diukur secara objektif dan mudah dipalsukan lewat pencitraan.
Bagaimana Bisa Orang Bodoh jadi Gubernur? Ditulis oleh Hara Nirankara
ALT Dedi Mulyani dalam "Bagaimana Bisa Orang Bodoh jadi Gubernur?"/Hara Nirankara