TAKTIK CERDIK
SANG DIREKTUR TEKNIK
Sobat Netizen Bersama Masyarakat,
Kita sering melihat, banyak pelatih hebat tiba-tiba dipecat, gara-gara performa jeblok. atau mega bintang yang tiba-tiba jadi pemanas bangku cadangan. Misalnya, Drogba dicadangkan oleh Scolari, saat di Chelsea (
@ChelseaEleven) atau Iker Casillas yang diparkir oleh Jose Mourinho saat melatih di Real Madrid (
@SeputarMadrid).
—Pemain tidak salah, pelatih tidak salah, yang plenger adalah direktur teknik. Sosok yang seharusnya, mengatur kondisi non teknis ini.—
• Dirtek punya peran yang krusial, mereka adalah arsitek utama yang merancang cetak biru operasional olahraga untuk tiga hingga lima tahun ke depan.
• Fungsi Dirtek seperti mas AHY (
@AgusMagelangan), yaitu sbg menteri kordinator.
• memastikan setiap pemain yang datang, sesuai dengan filosofi klub, juga memastikan setiap pelatih yang datang adalah "tim kepelatihan terbaik" untuk pemain yang ada.
• Jika tim punya pondasi dan potensi pemai dengan gaya 3 bek, low block. maka yang dicari adalah pelatih yang punya potensi mengakomodir skuad ini. Bukan memaksakan main 4 bek, dan ball posesion. bunuh diri namanya.
• ingat, tidak semua klub dan pemain punya level seperti chelsea atau real madrid. Mereka mampu adaptasi dengan cepat, untuk formasi dan gaya bermain. jadi wajar pecat dan pecut pelatih.
• direktur teknik tidak harus sarjana teknik. tapi harus presisi seperti seorang sarjana teknik.
- filosofi bermain
- tim kepelatihan terbaik
- rekrutmen pemain
- tim b/ Primavera (
@LaMasia_idn)
semua diatur, berkesinambungan.
terhubung satu sama lain.
jadi lebih mudah saat mencari pengganti pelatih, menambal pemain atau mengorbitkan wonderkid.
— Beppe Moratta
Jika kita membicarakan kasta tertinggi dari profesi ini, kita dapat melihat wujud nyata kejeniusan tersebut dalam diri Giuseppe "Beppe" Marotta.
• Saya fans AC Siena, jadi contoh ini saya ambil karna objektivitas semata. bukan perasan pribadi.
• kita bs melihat kebesaran orang ini, lewat sepak terjangnya saat menjadi penguasa juventus dan inter milan (
@JCIndonesia,
@Nerazzurri_ID)
• Di Juventus, Marotta membangun skuad juara dari puing-puing krisis dengan teknik transfer parametro zero—merekrut bintang seperti Andrea Pirlo dan Paul Pogba secara gratis, lalu meraciknya agar pas dengan sistem 3-5-2 andalan Conte. (2011-2014).
• Mahakarya transisi dan efisiensi anggaran ini ia ulangi dengan lebih brutal saat menyeberang ke Inter Milan. (2019-2021).
• Ia paham betul Conte butuh wing-back berparu-paru kuda dan striker pemantul bola; maka ia merombak skuad, mendatangkan Achraf Hakimi dan Romelu Lukaku lewat skema cicilan dan negosiasi alot, membarikade ruang ganti dari intervensi pemilik klub, hingga akhirnya sukses meruntuhkan hegemoni Juventus.
kayaknya ini, sudah terlalu panjang. mungkin kalian juga tidak membaca sampai bagian ini. bahkan jika saya sisipkan kata "hidup jokowi", kalian juga tak akan sadar.
• pelatih brilian memenangkan pertandingan, tetapi direktur teknik yang visioner menguasai sebuah era.
• Saya melihat bahwa tanpa sistem kepemanduan bakat yang jeli, manajemen pembatasan gaji (wage cap) yang ketat, serta kelihaian negosiasi kontrak, taktik sehebat apa pun di atas lapangan akan berujung pada inkonsistensi.
• Ketepatan Beppe Marotta dalam membaca celah regulasi transfer dan kepiawaiannya menyeimbangkan ego pelatih dengan realitas kas klub adalah bukti sahihnya.
• Kita sama-sama memahami, di balik gemerlapnya selebrasi pemain mengangkat piala, selalu ada selembar cetak biru hitung-hitungan teknis yang telah digambar dengan rinci bertahun-tahun sebelumnya oleh sang direktur teknik.
@pw_gun
@MUTalkID
@fandidikan
@Xabilonia
@InterBatMan
@xeduward
@MilanUpdate