Dulu Nova Arianto (alias Vava) itu striker.
Ayahnya, Pak Sartono Anwar, pernah bilang:
“Kalau mau cepat terkenal, main di depan. Yang dipuji orang kan yang nyetak gol.”
Jadi dari SSB, PSSI Baretti di Italia, sampai Arseto dan Persebaya awal, dia main sebagai penyerang.
Sampai suatu hari dia dipanggil Timnas U-23 buat kualifikasi Olimpiade. Pelatihnya, Bernard Schumm, lihat posturnya tinggi dan mainnya lugas. Langsung digeser ke bek tengah.
Dari situ kariernya berubah.
Dia jadi bek yang sulit ditembus, tapi masih sering nyumbang gol lewat bola mati. Di Persebaya jadi andalan dan ikut juara, di Persib main ratusan kali, di Sriwijaya ikut angkat trofi.
Lika-likunya ya ada. Dilatih ayah sendiri yang super disiplin, kompetisi sempat kacau karena krisis, di Timnas senior sering jadi cadangan, cedera juga.
Saat di PSIS, Dia sempat ngambek dengan Edy Paryono. Menit 46 dia masuk, namun pada menit 75 dia ditarik keluar.
Namun yang paling bikin orang ingat bukan cuma ngambeknya.
Setiap gol, dia ngesot-ngesot di lapangan. Gaya itu mirip “Suster Ngesot”. Padahal dia sendiri takut film horor. Ide itu muncul dari ngobrol sama istrinya, biar namanya nempel di ingatan Bobotoh.
Sejak itu dia dikenal sebagai Nova “Suster Ngesot” Arianto.
Dari striker yang pengen cepat terkenal, jadi bek andalan yang sulit dilupakan.
Adakah yang lain?
Siapakah pemain yang makin bersinar setelah berpindah posisi dalam bermain?