Be the one you love | games is my life

East Region, Singapore
Waktu kecil, kita sering dengar kalimat, "uang itu bukan segalanya." Dulu kedengarannya bijak banget. Tapi makin dewasa, kita mulai ngerti bahwa orang yang bilang begitu biasanya sudah cukup, atau lagi berusaha menenangkan diri. Karena kenyataannya, hampir semua hal di hidup ini nyambung ke uang. Mau sehat, butuh biaya berobat. Mau makan enak, butuh uang. Mau bantu orang tua, mau sekolah, mau punya tempat tinggal yang layak, semuanya butuh uang. Bahkan ketenangan pun sering kali lebih gampang didapat kalau dompet nggak lagi menjerit di akhir bulan. Coba ingat lagi momen ketika tanggal tua datang. Mau beli sesuatu mikir tiga kali, ada kabar mendadak langsung panik, ada tawaran bagus tapi terpaksa ditolak karena nggak ada dana. Di situ kita ngerasain sendiri, ternyata masalah sebesar itu bisa kelihatan kecil kalau uangnya ada, dan masalah kecil bisa terasa besar kalau uangnya nggak ada. Tapi satu hal yang perlu diingat, uang memang penting, bukan berarti harus jadi satu-satunya tujuan hidup. Uang itu alat. Ia bisa memberi rasa aman, kebebasan memilih, dan kesempatan untuk membahagiakan orang-orang tersayang. Tapi kalau kita lupa menjaga kesehatan, hubungan, dan hati demi mengejarnya, kita justru kehilangan hal yang mau kita beli dengan uang itu. Jadi nggak apa-apa kalau sekarang kamu serius mencari uang dan menata keuangan. Itu bukan tanda serakah, tapi tanda kamu mulai paham kenyataan. Cukup jaga keseimbangannya, supaya nanti saat uangnya ada, kamu juga masih punya waktu, tenaga, dan orang-orang untuk berbagi kebahagiaannya.
421
351
453
250,433
theresa retweeted
So fun games
Coba hitung berapa banyak orang di sekitarmu yang kelihatannya baik-baik saja, tapi diam-diam nggak pernah benar-benar tenang. Punya pekerjaan bagus, rumah nyaman, hidup kelihatan lengkap, tapi kepalanya terus berisik. Malam hari susah tidur, pagi hari bangun dengan pikiran yang sudah penuh sebelum hari dimulai. Itu sebabnya ketenangan terasa mahal. Bukan soal uang, tapi karena harganya sering berupa hal-hal yang nggak mudah dilepas. Kita harus rela menjauh dari orang yang bikin lelah, melepas ambisi yang terus mengejar-ngejar, belajar bilang "cukup", dan berdamai dengan hal-hal yang nggak bisa kita ubah. Banyak orang belum siap membayar harga itu, jadi mereka terus berlari, berharap tenang akan ketemu di ujung jalan. Padahal tenang itu jarang ada di ujung jalan. Ia tumbuh dari keputusan-keputusan kecil. Nggak membalas semua omongan, nggak ikut campur semua urusan, nggak memaksakan diri jadi segalanya buat semua orang. Pelan-pelan, hati jadi lebih lapang tanpa kita sadari. Dan kalau hari ini kamu sudah punya sedikit ketenangan, entah itu rasa cukup, hati yang nggak lagi gampang goyah, atau malam yang bisa dilewati dengan tidur nyenyak, jaga baik-baik. Itu bukan hal sepele. Itu sesuatu yang diam-diam sedang dicari banyak orang, dan nggak semua orang beruntung memilikinya.
6
7
361
Coba hitung berapa banyak orang di sekitarmu yang kelihatannya baik-baik saja, tapi diam-diam nggak pernah benar-benar tenang. Punya pekerjaan bagus, rumah nyaman, hidup kelihatan lengkap, tapi kepalanya terus berisik. Malam hari susah tidur, pagi hari bangun dengan pikiran yang sudah penuh sebelum hari dimulai. Itu sebabnya ketenangan terasa mahal. Bukan soal uang, tapi karena harganya sering berupa hal-hal yang nggak mudah dilepas. Kita harus rela menjauh dari orang yang bikin lelah, melepas ambisi yang terus mengejar-ngejar, belajar bilang "cukup", dan berdamai dengan hal-hal yang nggak bisa kita ubah. Banyak orang belum siap membayar harga itu, jadi mereka terus berlari, berharap tenang akan ketemu di ujung jalan. Padahal tenang itu jarang ada di ujung jalan. Ia tumbuh dari keputusan-keputusan kecil. Nggak membalas semua omongan, nggak ikut campur semua urusan, nggak memaksakan diri jadi segalanya buat semua orang. Pelan-pelan, hati jadi lebih lapang tanpa kita sadari. Dan kalau hari ini kamu sudah punya sedikit ketenangan, entah itu rasa cukup, hati yang nggak lagi gampang goyah, atau malam yang bisa dilewati dengan tidur nyenyak, jaga baik-baik. Itu bukan hal sepele. Itu sesuatu yang diam-diam sedang dicari banyak orang, dan nggak semua orang beruntung memilikinya.
5
9
42,103
theresa retweeted
Time will heals everything right
Coba hitung berapa banyak orang di sekitarmu yang kelihatannya baik-baik saja, tapi diam-diam nggak pernah benar-benar tenang. Punya pekerjaan bagus, rumah nyaman, hidup kelihatan lengkap, tapi kepalanya terus berisik. Malam hari susah tidur, pagi hari bangun dengan pikiran yang sudah penuh sebelum hari dimulai. Itu sebabnya ketenangan terasa mahal. Bukan soal uang, tapi karena harganya sering berupa hal-hal yang nggak mudah dilepas. Kita harus rela menjauh dari orang yang bikin lelah, melepas ambisi yang terus mengejar-ngejar, belajar bilang "cukup", dan berdamai dengan hal-hal yang nggak bisa kita ubah. Banyak orang belum siap membayar harga itu, jadi mereka terus berlari, berharap tenang akan ketemu di ujung jalan. Padahal tenang itu jarang ada di ujung jalan. Ia tumbuh dari keputusan-keputusan kecil. Nggak membalas semua omongan, nggak ikut campur semua urusan, nggak memaksakan diri jadi segalanya buat semua orang. Pelan-pelan, hati jadi lebih lapang tanpa kita sadari. Dan kalau hari ini kamu sudah punya sedikit ketenangan, entah itu rasa cukup, hati yang nggak lagi gampang goyah, atau malam yang bisa dilewati dengan tidur nyenyak, jaga baik-baik. Itu bukan hal sepele. Itu sesuatu yang diam-diam sedang dicari banyak orang, dan nggak semua orang beruntung memilikinya.
377
331
1,037
1,263,467
theresa retweeted
Nggak semua usaha itu dipermudah. Ada yang jalannya mulus, ada juga yang penuh tanjakan, kerikil, dan tikungan tajam yang nggak pernah kita duga. Kadang kita sudah berusaha sekuat tenaga, tapi hasilnya belum juga kelihatan. Di saat seperti itu, wajar kalau hati mulai bertanya: kenapa punyaku terasa lebih sulit dari orang lain? Tapi kesulitan bukan berarti usahamu sia-sia. Justru di jalan yang berat itulah kita belajar banyak hal: sabar, tahan banting, dan tetap melangkah meski belum ada yang tepuk tangan. Nggak ada yang melihat jam-jam kamu begadang, kegagalan yang kamu telan sendiri, atau semangat yang kamu kumpulkan lagi setelah hampir padam. Tapi semua itu tercatat dan nggak ada yang terbuang. Proses yang panjang sering bikin kita merasa jalan di tempat. Padahal, seperti benih yang ditanam, akar bekerja dulu di dalam tanah yang gelap sebelum ada tunas yang muncul ke permukaan. Diam bukan berarti mati. Bisa jadi, justru saat ini kamu sedang tumbuh ke arah yang belum kelihatan. Karena itu, jangan ukur usahamu dengan kecepatan orang lain. Setiap orang punya waktu panennya masing-masing. Ada yang cepat, ada yang butuh bertahun-tahun, tapi yang bersungguh-sungguh nggak akan pernah pulang dengan tangan kosong. Hasilnya mungkin datang dalam bentuk yang beda dari bayanganmu, tapi ia pasti datang. Jadi kalau hari ini terasa berat, teruskan saja pelan-pelan. Rawat usahamu seperti merawat tanaman: sabar, telaten, dan percaya. Suatu hari nanti, kamu akan menoleh ke belakang dan tersenyum, sebab semua lelah itu akhirnya berbuah manis.
8
9
446
Coba hitung berapa banyak orang di sekitarmu yang kelihatannya baik-baik saja, tapi diam-diam nggak pernah benar-benar tenang. Punya pekerjaan bagus, rumah nyaman, hidup kelihatan lengkap, tapi kepalanya terus berisik. Malam hari susah tidur, pagi hari bangun dengan pikiran yang sudah penuh sebelum hari dimulai. Itu sebabnya ketenangan terasa mahal. Bukan soal uang, tapi karena harganya sering berupa hal-hal yang nggak mudah dilepas. Kita harus rela menjauh dari orang yang bikin lelah, melepas ambisi yang terus mengejar-ngejar, belajar bilang "cukup", dan berdamai dengan hal-hal yang nggak bisa kita ubah. Banyak orang belum siap membayar harga itu, jadi mereka terus berlari, berharap tenang akan ketemu di ujung jalan. Padahal tenang itu jarang ada di ujung jalan. Ia tumbuh dari keputusan-keputusan kecil. Nggak membalas semua omongan, nggak ikut campur semua urusan, nggak memaksakan diri jadi segalanya buat semua orang. Pelan-pelan, hati jadi lebih lapang tanpa kita sadari. Dan kalau hari ini kamu sudah punya sedikit ketenangan, entah itu rasa cukup, hati yang nggak lagi gampang goyah, atau malam yang bisa dilewati dengan tidur nyenyak, jaga baik-baik. Itu bukan hal sepele. Itu sesuatu yang diam-diam sedang dicari banyak orang, dan nggak semua orang beruntung memilikinya.
9
10
1,568
theresa retweeted
Potato rush pro playing
Coba hitung berapa banyak orang di sekitarmu yang kelihatannya baik-baik saja, tapi diam-diam nggak pernah benar-benar tenang. Punya pekerjaan bagus, rumah nyaman, hidup kelihatan lengkap, tapi kepalanya terus berisik. Malam hari susah tidur, pagi hari bangun dengan pikiran yang sudah penuh sebelum hari dimulai. Itu sebabnya ketenangan terasa mahal. Bukan soal uang, tapi karena harganya sering berupa hal-hal yang nggak mudah dilepas. Kita harus rela menjauh dari orang yang bikin lelah, melepas ambisi yang terus mengejar-ngejar, belajar bilang "cukup", dan berdamai dengan hal-hal yang nggak bisa kita ubah. Banyak orang belum siap membayar harga itu, jadi mereka terus berlari, berharap tenang akan ketemu di ujung jalan. Padahal tenang itu jarang ada di ujung jalan. Ia tumbuh dari keputusan-keputusan kecil. Nggak membalas semua omongan, nggak ikut campur semua urusan, nggak memaksakan diri jadi segalanya buat semua orang. Pelan-pelan, hati jadi lebih lapang tanpa kita sadari. Dan kalau hari ini kamu sudah punya sedikit ketenangan, entah itu rasa cukup, hati yang nggak lagi gampang goyah, atau malam yang bisa dilewati dengan tidur nyenyak, jaga baik-baik. Itu bukan hal sepele. Itu sesuatu yang diam-diam sedang dicari banyak orang, dan nggak semua orang beruntung memilikinya.
8
9
15,064
theresa retweeted
Nggak semua usaha itu dipermudah. Ada yang jalannya mulus, ada juga yang penuh tanjakan, kerikil, dan tikungan tajam yang nggak pernah kita duga. Kadang kita sudah berusaha sekuat tenaga, tapi hasilnya belum juga kelihatan. Di saat seperti itu, wajar kalau hati mulai bertanya: kenapa punyaku terasa lebih sulit dari orang lain? Tapi kesulitan bukan berarti usahamu sia-sia. Justru di jalan yang berat itulah kita belajar banyak hal: sabar, tahan banting, dan tetap melangkah meski belum ada yang tepuk tangan. Nggak ada yang melihat jam-jam kamu begadang, kegagalan yang kamu telan sendiri, atau semangat yang kamu kumpulkan lagi setelah hampir padam. Tapi semua itu tercatat dan nggak ada yang terbuang. Proses yang panjang sering bikin kita merasa jalan di tempat. Padahal, seperti benih yang ditanam, akar bekerja dulu di dalam tanah yang gelap sebelum ada tunas yang muncul ke permukaan. Diam bukan berarti mati. Bisa jadi, justru saat ini kamu sedang tumbuh ke arah yang belum kelihatan. Karena itu, jangan ukur usahamu dengan kecepatan orang lain. Setiap orang punya waktu panennya masing-masing. Ada yang cepat, ada yang butuh bertahun-tahun, tapi yang bersungguh-sungguh nggak akan pernah pulang dengan tangan kosong. Hasilnya mungkin datang dalam bentuk yang beda dari bayanganmu, tapi ia pasti datang. Jadi kalau hari ini terasa berat, teruskan saja pelan-pelan. Rawat usahamu seperti merawat tanaman: sabar, telaten, dan percaya. Suatu hari nanti, kamu akan menoleh ke belakang dan tersenyum, sebab semua lelah itu akhirnya berbuah manis.
1
8
9
190
theresa retweeted
Nggak semua usaha itu dipermudah. Ada yang jalannya mulus, ada juga yang penuh tanjakan, kerikil, dan tikungan tajam yang nggak pernah kita duga. Kadang kita sudah berusaha sekuat tenaga, tapi hasilnya belum juga kelihatan. Di saat seperti itu, wajar kalau hati mulai bertanya: kenapa punyaku terasa lebih sulit dari orang lain? Tapi kesulitan bukan berarti usahamu sia-sia. Justru di jalan yang berat itulah kita belajar banyak hal: sabar, tahan banting, dan tetap melangkah meski belum ada yang tepuk tangan. Nggak ada yang melihat jam-jam kamu begadang, kegagalan yang kamu telan sendiri, atau semangat yang kamu kumpulkan lagi setelah hampir padam. Tapi semua itu tercatat dan nggak ada yang terbuang. Proses yang panjang sering bikin kita merasa jalan di tempat. Padahal, seperti benih yang ditanam, akar bekerja dulu di dalam tanah yang gelap sebelum ada tunas yang muncul ke permukaan. Diam bukan berarti mati. Bisa jadi, justru saat ini kamu sedang tumbuh ke arah yang belum kelihatan. Karena itu, jangan ukur usahamu dengan kecepatan orang lain. Setiap orang punya waktu panennya masing-masing. Ada yang cepat, ada yang butuh bertahun-tahun, tapi yang bersungguh-sungguh nggak akan pernah pulang dengan tangan kosong. Hasilnya mungkin datang dalam bentuk yang beda dari bayanganmu, tapi ia pasti datang. Jadi kalau hari ini terasa berat, teruskan saja pelan-pelan. Rawat usahamu seperti merawat tanaman: sabar, telaten, dan percaya. Suatu hari nanti, kamu akan menoleh ke belakang dan tersenyum, sebab semua lelah itu akhirnya berbuah manis.
7
9
412
theresa retweeted
Coba hitung berapa banyak orang di sekitarmu yang kelihatannya baik-baik saja, tapi diam-diam nggak pernah benar-benar tenang. Punya pekerjaan bagus, rumah nyaman, hidup kelihatan lengkap, tapi kepalanya terus berisik. Malam hari susah tidur, pagi hari bangun dengan pikiran yang sudah penuh sebelum hari dimulai. Itu sebabnya ketenangan terasa mahal. Bukan soal uang, tapi karena harganya sering berupa hal-hal yang nggak mudah dilepas. Kita harus rela menjauh dari orang yang bikin lelah, melepas ambisi yang terus mengejar-ngejar, belajar bilang "cukup", dan berdamai dengan hal-hal yang nggak bisa kita ubah. Banyak orang belum siap membayar harga itu, jadi mereka terus berlari, berharap tenang akan ketemu di ujung jalan. Padahal tenang itu jarang ada di ujung jalan. Ia tumbuh dari keputusan-keputusan kecil. Nggak membalas semua omongan, nggak ikut campur semua urusan, nggak memaksakan diri jadi segalanya buat semua orang. Pelan-pelan, hati jadi lebih lapang tanpa kita sadari. Dan kalau hari ini kamu sudah punya sedikit ketenangan, entah itu rasa cukup, hati yang nggak lagi gampang goyah, atau malam yang bisa dilewati dengan tidur nyenyak, jaga baik-baik. Itu bukan hal sepele. Itu sesuatu yang diam-diam sedang dicari banyak orang, dan nggak semua orang beruntung memilikinya.
8
9
271
theresa retweeted
Potato rush smart gameplay
Ada saat-saat di mana langkah terasa terlalu berat, dan satu-satunya pikiran yang muncul adalah: sudahlah, berhenti saja. Capek, ragu, dan hasil yang belum kelihatan sering bikin kita bertanya-tanya, "Ini semua masih layak diperjuangkan nggak sih?" Perasaan itu wajar. Kamu nggak sendirian, dan itu bukan tanda kamu lemah. Tapi coba tarik napas sebentar, lalu mundur ke titik awal. Ingat lagi hari ketika kamu pertama kali memutuskan untuk mulai. Waktu itu, pasti ada alasan yang cukup kuat sampai kamu berani melangkah: mimpi yang ingin dikejar, orang yang ingin dibanggakan, atau diri sendiri yang ingin dibuktikan bisa. Alasan itu belum hilang, hanya tertutup lelah. Perjalanan yang panjang memang sering bikin kita lupa tujuan. Kita terlalu fokus pada seberapa jauh jalan yang tersisa, sampai lupa menengok seberapa jauh yang sudah ditempuh. Padahal, setiap hari yang berhasil kamu lewati, sekecil apa pun kemajuannya, adalah bukti bahwa kamu masih bertahan. Dan bertahan itu sendiri sudah merupakan bentuk keberanian. Kalau memang perlu istirahat, istirahatlah. Berhenti sejenak nggak sama dengan menyerah. Kamu boleh duduk, menarik napas, dan mengumpulkan tenaga lagi. Yang penting, jangan sampai kamu meninggalkan jalan ini hanya karena sedang lelah, sebab keputusan yang diambil saat capek sering kali bukan suara hati yang sebenarnya. Jadi kalau hari ini terasa berat, pelan-pelan saja. Ingat lagi alasan pertamamu, genggam erat-erat, lalu lanjutkan dengan langkah sekecil apa pun. Kamu sudah sampai sejauh ini, dan itu bukan kebetulan. Masih ada versi dirimu di depan sana yang sedang menunggu, yang akan berterima kasih karena kamu nggak jadi berhenti.
9
12
36,060
theresa retweeted
Ada orang yang kalau salah, nggak pernah benar-benar bilang "iya, itu salahku." Ceritanya diputar pelan-pelan. Bagian yang bikin dia kelihatan buruk dihilangkan, bagian yang bikin dia kelihatan terluka dibesar-besarkan. Ujung-ujungnya, dia yang tampil sebagai korban.
10
25
601
theresa retweeted
Coba hitung berapa banyak orang di sekitarmu yang kelihatannya baik-baik saja, tapi diam-diam nggak pernah benar-benar tenang. Punya pekerjaan bagus, rumah nyaman, hidup kelihatan lengkap, tapi kepalanya terus berisik. Malam hari susah tidur, pagi hari bangun dengan pikiran yang sudah penuh sebelum hari dimulai. Itu sebabnya ketenangan terasa mahal. Bukan soal uang, tapi karena harganya sering berupa hal-hal yang nggak mudah dilepas. Kita harus rela menjauh dari orang yang bikin lelah, melepas ambisi yang terus mengejar-ngejar, belajar bilang "cukup", dan berdamai dengan hal-hal yang nggak bisa kita ubah. Banyak orang belum siap membayar harga itu, jadi mereka terus berlari, berharap tenang akan ketemu di ujung jalan. Padahal tenang itu jarang ada di ujung jalan. Ia tumbuh dari keputusan-keputusan kecil. Nggak membalas semua omongan, nggak ikut campur semua urusan, nggak memaksakan diri jadi segalanya buat semua orang. Pelan-pelan, hati jadi lebih lapang tanpa kita sadari. Dan kalau hari ini kamu sudah punya sedikit ketenangan, entah itu rasa cukup, hati yang nggak lagi gampang goyah, atau malam yang bisa dilewati dengan tidur nyenyak, jaga baik-baik. Itu bukan hal sepele. Itu sesuatu yang diam-diam sedang dicari banyak orang, dan nggak semua orang beruntung memilikinya.
7
11
544
Coba hitung berapa banyak orang di sekitarmu yang kelihatannya baik-baik saja, tapi diam-diam nggak pernah benar-benar tenang. Punya pekerjaan bagus, rumah nyaman, hidup kelihatan lengkap, tapi kepalanya terus berisik. Malam hari susah tidur, pagi hari bangun dengan pikiran yang sudah penuh sebelum hari dimulai. Itu sebabnya ketenangan terasa mahal. Bukan soal uang, tapi karena harganya sering berupa hal-hal yang nggak mudah dilepas. Kita harus rela menjauh dari orang yang bikin lelah, melepas ambisi yang terus mengejar-ngejar, belajar bilang "cukup", dan berdamai dengan hal-hal yang nggak bisa kita ubah. Banyak orang belum siap membayar harga itu, jadi mereka terus berlari, berharap tenang akan ketemu di ujung jalan. Padahal tenang itu jarang ada di ujung jalan. Ia tumbuh dari keputusan-keputusan kecil. Nggak membalas semua omongan, nggak ikut campur semua urusan, nggak memaksakan diri jadi segalanya buat semua orang. Pelan-pelan, hati jadi lebih lapang tanpa kita sadari. Dan kalau hari ini kamu sudah punya sedikit ketenangan, entah itu rasa cukup, hati yang nggak lagi gampang goyah, atau malam yang bisa dilewati dengan tidur nyenyak, jaga baik-baik. Itu bukan hal sepele. Itu sesuatu yang diam-diam sedang dicari banyak orang, dan nggak semua orang beruntung memilikinya.
418
316
435
20,379
theresa retweeted
Flow with the amazing vibe
Coba hitung berapa banyak orang di sekitarmu yang kelihatannya baik-baik saja, tapi diam-diam nggak pernah benar-benar tenang. Punya pekerjaan bagus, rumah nyaman, hidup kelihatan lengkap, tapi kepalanya terus berisik. Malam hari susah tidur, pagi hari bangun dengan pikiran yang sudah penuh sebelum hari dimulai. Itu sebabnya ketenangan terasa mahal. Bukan soal uang, tapi karena harganya sering berupa hal-hal yang nggak mudah dilepas. Kita harus rela menjauh dari orang yang bikin lelah, melepas ambisi yang terus mengejar-ngejar, belajar bilang "cukup", dan berdamai dengan hal-hal yang nggak bisa kita ubah. Banyak orang belum siap membayar harga itu, jadi mereka terus berlari, berharap tenang akan ketemu di ujung jalan. Padahal tenang itu jarang ada di ujung jalan. Ia tumbuh dari keputusan-keputusan kecil. Nggak membalas semua omongan, nggak ikut campur semua urusan, nggak memaksakan diri jadi segalanya buat semua orang. Pelan-pelan, hati jadi lebih lapang tanpa kita sadari. Dan kalau hari ini kamu sudah punya sedikit ketenangan, entah itu rasa cukup, hati yang nggak lagi gampang goyah, atau malam yang bisa dilewati dengan tidur nyenyak, jaga baik-baik. Itu bukan hal sepele. Itu sesuatu yang diam-diam sedang dicari banyak orang, dan nggak semua orang beruntung memilikinya.
7
9
319
theresa retweeted
Ada satu titik di mana kita akhirnya berhenti menebak-nebak. Berhenti mencari tanda, berhenti mencari alasan, berhenti mengira-ngira apakah dia sebenarnya juga punya rasa yang sama. Lalu pelan-pelan kita sadar: selama ini kita yang berharap lebih. Yang paling menyakitkan bukan saat ditinggalkan, tapi saat sadar bahwa kita memang nggak pernah benar-benar dipilih. Dia datang, kita kira itu awal dari sesuatu. Dia baik, kita kira itu artinya spesial. Padahal bagi dia, mungkin kita cuma bagian dari perjalanan yang kebetulan lewat. Kita memberi tempat, sementara dia cuma singgah. Dan jujur, menerima itu nggak gampang. Ada bagian dari diri kita yang masih ingin percaya, "masa sih nggak ada apa-apanya?" Tapi kalau seseorang memang menginginkan kita, dia nggak akan membuat kita bertanya-tanya sebanyak ini. Orang yang benar-benar ingin tinggal akan berusaha tinggal, bukan membiarkan kita menebak. Meski begitu, nggak ada yang salah dengan perasaanmu. Kamu nggak bodoh karena sempat berharap, dan ketulusanmu bukan kesalahan. Kamu cuma menaruhnya di tempat yang belum siap menyambutnya. Itu bukan berarti kamu kurang berharga, itu cuma berarti dia bukan orangnya. Jadi pelan-pelan, lepaskan. Kamu berhak mendapatkan seseorang yang nggak cuma kebetulan bertemu denganmu, tapi memang menginginkanmu dengan sadar, dengan sungguh-sungguh, dan tanpa membuatmu ragu.
7
8
283
theresa retweeted
Feel the positive energy that contain in this 🥰😍
Ada saat-saat di mana langkah terasa terlalu berat, dan satu-satunya pikiran yang muncul adalah: sudahlah, berhenti saja. Capek, ragu, dan hasil yang belum kelihatan sering bikin kita bertanya-tanya, "Ini semua masih layak diperjuangkan nggak sih?" Perasaan itu wajar. Kamu nggak sendirian, dan itu bukan tanda kamu lemah. Tapi coba tarik napas sebentar, lalu mundur ke titik awal. Ingat lagi hari ketika kamu pertama kali memutuskan untuk mulai. Waktu itu, pasti ada alasan yang cukup kuat sampai kamu berani melangkah: mimpi yang ingin dikejar, orang yang ingin dibanggakan, atau diri sendiri yang ingin dibuktikan bisa. Alasan itu belum hilang, hanya tertutup lelah. Perjalanan yang panjang memang sering bikin kita lupa tujuan. Kita terlalu fokus pada seberapa jauh jalan yang tersisa, sampai lupa menengok seberapa jauh yang sudah ditempuh. Padahal, setiap hari yang berhasil kamu lewati, sekecil apa pun kemajuannya, adalah bukti bahwa kamu masih bertahan. Dan bertahan itu sendiri sudah merupakan bentuk keberanian. Kalau memang perlu istirahat, istirahatlah. Berhenti sejenak nggak sama dengan menyerah. Kamu boleh duduk, menarik napas, dan mengumpulkan tenaga lagi. Yang penting, jangan sampai kamu meninggalkan jalan ini hanya karena sedang lelah, sebab keputusan yang diambil saat capek sering kali bukan suara hati yang sebenarnya. Jadi kalau hari ini terasa berat, pelan-pelan saja. Ingat lagi alasan pertamamu, genggam erat-erat, lalu lanjutkan dengan langkah sekecil apa pun. Kamu sudah sampai sejauh ini, dan itu bukan kebetulan. Masih ada versi dirimu di depan sana yang sedang menunggu, yang akan berterima kasih karena kamu nggak jadi berhenti.
8
10
4,065
Ada satu titik di mana kita akhirnya berhenti menebak-nebak. Berhenti mencari tanda, berhenti mencari alasan, berhenti mengira-ngira apakah dia sebenarnya juga punya rasa yang sama. Lalu pelan-pelan kita sadar: selama ini kita yang berharap lebih. Yang paling menyakitkan bukan saat ditinggalkan, tapi saat sadar bahwa kita memang nggak pernah benar-benar dipilih. Dia datang, kita kira itu awal dari sesuatu. Dia baik, kita kira itu artinya spesial. Padahal bagi dia, mungkin kita cuma bagian dari perjalanan yang kebetulan lewat. Kita memberi tempat, sementara dia cuma singgah. Dan jujur, menerima itu nggak gampang. Ada bagian dari diri kita yang masih ingin percaya, "masa sih nggak ada apa-apanya?" Tapi kalau seseorang memang menginginkan kita, dia nggak akan membuat kita bertanya-tanya sebanyak ini. Orang yang benar-benar ingin tinggal akan berusaha tinggal, bukan membiarkan kita menebak. Meski begitu, nggak ada yang salah dengan perasaanmu. Kamu nggak bodoh karena sempat berharap, dan ketulusanmu bukan kesalahan. Kamu cuma menaruhnya di tempat yang belum siap menyambutnya. Itu bukan berarti kamu kurang berharga, itu cuma berarti dia bukan orangnya. Jadi pelan-pelan, lepaskan. Kamu berhak mendapatkan seseorang yang nggak cuma kebetulan bertemu denganmu, tapi memang menginginkanmu dengan sadar, dengan sungguh-sungguh, dan tanpa membuatmu ragu.
7
8
9,639
Viu bulanan yang anlim dong #zonauang
72
9
927
Okay sudah dapat, thankyou guys
1
152