Ternyata Wisatawan Dari Negara Ini "Tidak Disukai" di Bali
Di Bali beberapa waktu yang lalu, saya sempat ngobrol dengan driver bus pariwisata yang saya tumpangi. Sebut saja namanya Bli Komang (Bli artinya Abang dalam bahasa Bali).
"Bli, sepertinya pariwisata Bali sudah normal lagi, ya? Turis mancanegara sudah kembali ramai. Kondisi ini sudah sama dengan sebelum pandemi, ya?" ujar saya membuka percakapan.
Saya bertanya begitu, karena melihat di Denpasar memang sudah banyak sekali wisatawan asing. Pagi sebelumnya saya jogging sepanjang pantai Kuta dan lebih banyak berpapasan dengan orang asing ketimbang orang Indonesia.
Bli Komang menjawab.
"Kalau dibandingkan dengan sebelum pandemi belum normal sih, Pak. Tapi memang sudah kembali ramai setelah benar-benar terpukul karena covid kemaren."
"Bagaimana dengan trend asal turis, Bli? Ada perubahan, gak?"
"Oh , kalau itu iya, Pak. Memang berubah drastis trend wisatawan yang datang ke Bali berdasarkan asal negara. Sebelum pandemi, mayoritas pengunjung berasal dari Australia, Eropa, dan Amerika. Yang dari Asia umumnya berasal dari negara X. Sekarang, yang banyak datang wisatawan dari negara Z. Dan saya terus terang tidak suka dengan karakter wisatawan dari negara Z ini."
Saya baru tahu data ini, dan penjelasan Bli Komang barusan menimbulkan pertanyaan lanjutan di benak saya.
"Tidak suka kenapa, Bli?" tanya saya.
"Pokoknya menyebalkan, Pak. Banyak bikin masalah. Khususnya dengan kami-kami pekerja wisata di lapangan, seperti driver atau karyawan hotel.
Lalu Bli Komang menceritakan beberapa kejadian yang pernah ia alami untuk menjelaskan pernyataannya soal "menyebalkan" itu.
Pertama.
"Mereka sering ngaret parah, Pak. Misal, janji jam 8 mereka dijemput di hotel tempat mereka menginap. Jam 8 saya sudah tiba. Eh, mereka enak saja baru pada muncul jam 10 tanpa ada rasa bersalah sama sekali."
Kedua.
"Biasanya, wisatawan dari negara manapun, selesai tour langsung makan malam dulu, baru pulang ke hotel. Sehingga kami para sopir pun bisa pulang lebih cepat. Nah, turis dari negara Z ini tidak begitu. Usai tour, mereka minta balik ke hotel dulu--mandi dan ganti pakaian. Lalu minta keluar lagi cari makan malam. Bayangkan, jam berapa kami para driver ini baru bisa pulang."
Ketiga
"Selama tour, mereka hampir selalu memaksakan kehendak harus makan di tempat yang menyediakan menu khas dari negara mereka. Dibilangin kalau bus besar susah parkir di sana, mereka tak peduli. Tetap memaksa harus makan di sana. Mereka bilang, turunkan dulu mereka, lalu terserah mau cari parkir di mana, nanti jemput lagi mereka selesai makan. Ini benar-benar merepotkan kami para driver."
Saking menyebalkannya, Bli Komang bilang ia perrnah memukul turis dari negara Z ini.
Saya kaget. Sampai memukul? Apa masalahnya?
Bli Komang bercerita.
Ia sedang menyetir bus ukuran sedang dengan penumpang seluruhnya turis dari negara Z.
Awal jalan, normal. Tak lama kemudian, penumpang yang duduk persis di belakangnya, menaikkan kedua kaki ke atas senderan jok sopir.
Bli Komang masih diam. Mungkin hanya sebentar, pikirnya.
Tapi rupanya kaki itu tidak turun-turun. Bli Komang minta baik-baik agar kaki diturunkan. Tapi turis itu cuek. Kedua kakinya tetap di atas senderan jok.
Bli Komang pun diam. Kemudian menggeser duduknya agak ke depan supaya kaki turis itu tidak mengenai kepalanya.
Tapi turis itu makin menjadi-jadi. Ia mendorong kepala Bli Komang dengan sebelah kakinya, lalu bicara. Dorongan kaki ke kepala itu sepertinya dia anggap sama saja dengan colekan tangan ketika hendak mengajak orang bicara.
Merasa ini sudah keterlaluan, Bli Komang pun marah.
"Anda tolong sopan, ya!" ujar Bli Komang tegas.
Bukannya sadar sudah berbuat tidak sopan, turis itu malah 'nyolot' dengan kata-kata yang merendahkan.
Saya tidak bisa menyebutkan apa kata-kata itu. Tapi yang jelas membuat Bli Komang meledak emosinya.
Ia injak kuat gas, lalu injak rem mendadak. Turis itu pun terpental ke depan, tersungkur di samping Bli Komang. Tanpa ampun, Bli Komang mencengkram leher turis itu lalu melepaskan bogem mentah ke wajahnya.
Sontak turis lainnya terperanjat. Tapi Bli Komang menghadapinya dengan tenang. Ia terus mengemudi. Lalu membelokkan bus ke kantor polisi.
Di kantor polisi ia ceritakan bahwa ia baru saja memukul seorang turis, tapi ia melakukannya karena si turis kurang ajar bahkan menghina.
Polisi pun berpihak pada Bli Komang. Turis itu akhirnya minta maaf.
Sejak kejadian itu, Bli Komang tak mau lagi bekerja membawa turis asal negara Z. Menurutnya, lebih baik tak dapat job dari pada membawa mereka.
Terus terang, saya kaget mendengar cerita itu. Tak menyangka orang-orang negara Z sikapnya sedemikian parah.
Selama ini yang saya tahu, masyarakat Bali sering komplain dengan prilaku orang-orang Australia yang sering bikin masalah. Ini pernah diungkapkan langsung lewat surat terbuka oleh Jerinx (drummer band asal Bali--Superman Is Dead).
Ketika ini saya konfirmasi, Bli Komang bilang, orang Australia sering bikin masalah hanya ketika mabuk.
Saya tanya juga, bagaimana dengan wisatawan asal Malaysia? Kita tahu, di medsos, netizen Malaysia sering berseteru dengan netizen Indonesia.
Tapi lagi-lagi Bli Komang bilang, turis asal Malaysia hampir sama karakternya dengan wisatawan lokal Indonesia, baik-baik. Tidak pernah bikin masalah.
Hmm ... berarti memang hanya turis asal negara Z ini saja yang "rada-rada" sehingga tidak disukai di Bali.
Dan menurut Bli Komang, ini bukan pengalaman dirinya saja, rekan-rekan seprofesinya juga banyak mengalami pengalaman yang relatif sama.