Part of Wellspring Indonesia| Advisor @ibunda_id| Help you heal your trauma with Trauma Processing Therapy®| Kolaborasi linktr.ee/jiemiardian

Bogor
Terkait berita yang ramai, saya di sini membuat klarifikasi singkat dahulu Pertama saya tidak melakukan yang dituduhkan dengan pelecehan. 60 hari terakhir saya sudah menjalani sidang Majelis Disiplin Profesi, karena yang bersangkutan melaporkan. Saya mengikuti seluruh alurnya. Sidang ini juga menyertakan ahli dari pihak profesional yang netral. Sidang putusan di 18 September 2026 menyatakan saya tidak terbukti melakukan pelanggaran seperti yang didalilkan oleh yang mengadukan. Di saat bersamaan saya menyangkal telah melakukan hal hal yang dituduhkan. Dan saya tidak mau membuka apa kondisi pasien, tolong jangan tanyakan dan buat cerita di sini. Bagaimanapun itu kerahasiaan medis.
75
352
2,556
1,543,808
Ini Kaskus enggak mau balik apa untuk bikin FJB? Sama jaman dulu ada rekber Kayanya marketplace jadi mahal juga
41
44
325
72,243
Tenang saja, negara kita kuat. Fundamental kita bagus. Warga desa ga pake dollar. Jangan bergantung sama asing. Bangsa kita bangsa yang besar. Gimana, udah cocok jadi komisaris belum?
7
43
150
32,816
Dalam sains, sebuah konsep HARUS bisa dibuktikan salah. Kalau ga bisa dibuktikan salah, maka konsep ini hanya menyisakan satu ruang untuk salah. Yaitu salahmu (alias nyalahin orang yang hasilnya beda dengan klaim konsep tersebut). Misalnya kalo kamu ga sembuh, ya hatimu kotor
17
96
378
37,996
Saya lagi suka nulis di substack. Tulisan baru saya kali ini tentang "Mengapa Menangis Buat Lega, Padahal Emosi Itu Bukan Benda Bertekanan?". Intinya emosi bukan sesuatu yang harus dilepaskan, tapi..... nah lengkapnya di substack langsung aja substack.com/home/post/p-188…
2
66
230
21,624
Saya lagi mencoba menulis lebih dalam di substack. Jadi buat temen-teman praktisi atau yang sudah punya dasar teori banyak tentang kesehatan jiwa, bisa subscribe di sini untuk belajar sama sama ya. open.substack.com/pub/jiemia…
1
38
222
17,452
Kemampuanku mengingat lirik lagu dari tahun 80an jauh melampaui kemampuanku mengingat kenapa aku jalan ke dapur -anonymous internet meme
10
50
259
19,582
Terpikir buat kelas Martial Arts Intelligence karena baca buku Broken Strings. Untuk bapak bapak yang sayang sama anak-nya tapi ga bisa bela diri. Yang diajarin nanti pengetahuan abuse secara psikologis dan bagaimana mencegah sama mengatasi abuse, sama belajar basic martial art.
16
267
1,366
53,089
Karena lihat konten @MrOngDedy soal sinyal WiFi yang susah di pojokan rumah, jadi cobain Deco ini. Ga ada lagi susah sinyal WiFi di ruang kerja. Tengkyu banget rekomendasinya
1
16
114
17,127
Bentar lagi lapor SPT untuk pajak 2025, jadi saya lagi buka-buka coretax untuk lihat kurang bayar di tahun ini. Sambil lihat nominal kurang bayar, sambil scroll Twitter isinya buzzer nyerang seorang komika senior. Semoga bukan uang pajak saya yang masuk ke rekening buzzer 🥲🙏
15
337
1,297
58,088
Pernah gak sih mikir, kenapa dua orang bisa melihat kejadian yang SAMA PERSIS, tapi punya ingatan yang BEDA BANGET? Ternyata, "siapa kamu" (latar belakang & pekerjaan) itu menentukan sekali "apa yang kamu ingat". Sebuah utas singkat soal sains memori.
28
3,508
17,605
389,761
Pelajaran dari studi ini simpel tapi penting: Latar kita menentukan apa dan bagaimana kita mengingat. Otak kita akan "menyimpan" hal-hal yang relevan sama background kita. Pengetahuan yang sudah ada di kepala kita itu kayak kacamata untuk melihat realitas yang kita lihat
2
138
757
29,968
Makanya, jangan heran kalau kita diskusi sama temen soal kejadian masa lalu dan versi kalian beda-beda, itu wajar. Bukan berarti salah satu bohong, tapi karena pengalaman hidup kalian membentuk "lensa" yang berbeda buat ngeliat dunia.
1
242
1,243
29,157
Setuju Bu! Orang-orang ini kok ga ngerti syukur. Bersyukur itu baik juga buat kesehatan mental. Anak anak dan guru harusnya mendukung program yang luar biasa indah tanpa celah ini. pemerintah dari planet planet lain aja kagum. Oke anak anak? Bismillah komisaris
Beliau ini lagi menjawab pertanyaan saya, kenapa siswa dan guru ditekan supaya gak posting menu MBG. Tapi jawabannya justru mempertanyakan karakter siswa yang memposting MBG. Maka saya tegaskan, "ada belatungnya! " Beliau kemudian menjelaskan tugas guru itu seharusnya mengajarkan rasa syukur. Yang mind blowing, justru menormalisasi belatung "seperti di SPPG saya." Katanya pernah kejadian belatung dari kacang edamame. Pertama, menormalisasi Belatung. Kedua, ternyata orang BGN punya SPPG juga. Ya sontak semua peserta kaget. Lho kok bisa orang BGN punya SPPG. 😅😅😅 pusing ah.
26
101
452
32,301
Saya penulis buku, yang menulis buku karena pengen aja dan hidup utamanya bukan dari penjualan buku. Saya hanya ingin ilmu yang saya punya itu diketahui lebih banyak orang. Ini perspektif saya tentang pembajakan buku yang saya tulis.
Urusan pembajakan buku ini memang selalu menjadi perdebatan paradoks, terutama di kalangan para aktivis “kiri”: Di satu sisi, membajak buku bisa diartikan sebagai tindakan kontra-revolusioner karena menindas sesama buruh (penulis), tapi di sisi yang lain, membiarkan ilmu terkunci oleh harga buku yang mahal juga merupakan tindakan kapitalistik. Di kalangan sosialis, perdebatan soal ini nyaris selalu menjadi perdebatan yang panjang di mana masing-masing pihak punya patronnya masing-masing. Di sisi penentang pembajakan, ada sosok Ursula K. Le Guin, penulis anarkis/feminis dan sangat kritis terhadap kapitalisme. Namun, ia sangat keras menentang pembajakan buku. Le Guin menganggap buku sebagai “hasil keringat” yang harus dihargai secara ekonomi agar pekerjanya bisa hidup layak. Sementara di pihak pro “pembajakan”, sosok yang menonjol adalah Cory Doctorow. Ia percaya bahwa hukum hak cipta yang ketat hanya menguntungkan korporasi besar, bukan penulis. Lantas, mana yang lebih tepat, bolehnya pembajakan atau terlarangnya pembajakan? Untuk menjawab ini, kiranya kita perlu kembali ke belakang, tepatnya tahun 2008, ketika Aaron Swartz menulis “Guerilla Open Access Manifesto” yang kemudian dianggap mengawali gerakan pemikiran untuk membajak buku ilmiah yang kemudian diikuti oleh Alexandra Elbakyan yang membuat platform Sci-Hub yang mampu membobol paywall jurnal raksasa (seperti Elsevier). Apa yang dilakukan oleh Aaron Swartz dan Elbakyan itu pada dasarnya dilatarbelakangi oleh sistem kapitalisme akademik, di mana publik membayar pajak untuk membiayai riset, tetapi riset itu kemudian dijual ke publik dengan harga mahal (salah satu motivasi Elbakyan membuat Sci-Hub adalah karena ia keberatan harus membayar $30 untuk setiap jurnal yang ingin ia baca) Hal itulah yang menjadi momentum perlawanan terhadap copyright akademik. Masyarakat harusnya berhak atas ilmu pengetahuan yang dibiayai oleh masyarakat itu sendiri. Nah, dalam ruang itulah sebuah buku menurut kami wajib dibebasakseskan, atau dalam bahasa kasarnya, “layak” untuk dibajak. Lantas, kalau untuk buku-buku non-jurnal yang tidak dibiayai pemerintah/publik melalui pajak, bagaimana? Ini sebenarnya juga sama. Ilmu pengetahuan idealnya bisa diakses oleh publik. Idealnya. Tetapi, kondisi ideal tersebut tentu hanya berlaku jika syarat idealnya juga terpenuhi. Apa saja kondisi idealnya? 1. Penulis sudah dijamin kebutuhan dasarnya, sehingga ia tidak lagi bergantung pada royalti per eksemplar untuk bertahan hidup. Royalti hanya bersifat apresiatif, atau 2. Negara membeli buku-buku terpilih dan mendistribusikannya ke berbagai perpustakaan umum, atau 3. Negara menetapkan PLR (Public Lending Right) di mana penulis mendapatkan royalti untuk setiap bukunya yang dipinjam di perpustakaan sehingga ia tak perlu mengandalkan royalti penjualan. Nah, di Indonesia, tiga kondisi di atas belum terjadi. Hal tersebut jelas berbeda jauh dengan Norwegia, Kanada, Finlandia, Islandia, dan beberapa negara Eropa yang sudah punya mekanisme PLR, pembelian buku, atau insentif penulis. Ketika kondisi ideal belum tercapai, maka membajak buku jelas adalah sebuah kekejian sosial, sebab ia merampas hak penulis atas royalti yang memang menjadi satu-satunya kompensasi atas kerja-kerja penulisan mereka. Bayangkan, mereka para penulis bekerja berbulan-bulan tanpa bayaran, menggunakan komputer sendiri, cari data sendiri, riset sendiri, dengan harapan bukunya laku. Itu bukan lagi sekadar kerja, tetapi bentuk perjudian nasib. Royalti yang merupakan benefit atas hak cipta tulisan mereka adalah satu-satunya imbalan yang paling masuk akal yang bisa mereka dapatkan. Dalam hal ini, walau hak cipta kerap dianggap sebagai salah satu elemen dalam ekonomi kapitalistik, tetapi ia tak bisa serta merta dipandang secara hitam-putih. Pram, yang kita semua tahu, sangat membenci sistem kapitalisme yang menindas (eksploitatif), tetapi ia sangat sadar akan hak-hak ekonominya sebagai seorang “buruh penulis” Menurut Pram, menulis adalah kerja (labor). Sama seperti petani mencangkul atau buruh memalu, penulis bekerja dengan otak dan mesin ketik. Oleh karena itu, ia merasa berhak mendapatkan upah (royalti) yang layak. Mengambil hak penulis tanpa membayar adalah bentuk perampokan nilai kerja, yang justru sangat ditentang oleh logika marxisme/sosialisme itu sendiri. Pram sangat concern pada perkara royalti ini. Ia bahkan pernah pecah kongsi dengan sahabat baiknya sendiri di penerbit Hasta Mitra, Joesoef Isak, karena merasa Hasta Mitra tidak mampu melindungi buku-bukunya dari pembajakan yang merajalela. Tentu saja muara pembajakan adalah ketidakbecusan pemerintah untuk membuat regulasi yang mampu mensejahterakan penulis sehingga mereka harus bergantung kepada pasar. Namun, hal itu seharusnya tidak menjadi dalih pembenaran atas pembajakan. Betapa malangnya menjadi penulis. Sudahlah tidak disejahterakan oleh negara, masih saja dirampas haknya oleh sesama warga negara. Dan yang lebih tragis lagi, mereka para perampas hak penulis itu tidak merasa sedang merampas hak orang lain.
4
122
462
33,818
Gerakan itu harusnya menyesuaikan konteks. Kalau konteksnya penelitian atau sains di negara maju, maka membajak bisa jadi membebaskan. Tapi kalau konteksnya buku di Indonesia Raya, yang penulisnya hidup dari karya aja sulit, membajak itu ga ada nuansa membebaskannya.
1
13
48
5,915
Soal masalah lain kaya gatekeeping, daya beli masyarakat, saya ga pingin komentar. Biarlah itu jadi bahan diskusi orang lain yang lebih mengerti. Saya cuma agak ngerti dari sudut pandang penulis aja. Harapannl saya, semoga perpustakaan lebih banyak, jadi orang ga perlu membajak
1
5
47
5,261