aku pribadi gapapa, kak. berapa sih pajak buku, pembalut, dan kopi dibanding manfaat yang kurasakan dari jalan aspal yang kulalui, lampu jalan yang menerangi perjalanan pulangku saat harus bekerja sampai larut malam, dan berbagai fasilitas publik lainnya?
nampaknya, untuk hal-hal itu, aku nggak perlu terlalu hitung-hitungan.
ini beda cerita tapi aku tahu perlokusi, ilokusi, dan lokusi dari statement ini~ kalau ditanya bagaimana jika uang pajaknya dikorupsi, tentu aku marah. recehan yang dikumpulkan dari setiap orang, jika diakumulasi, bisa berdampak besar bagi perubahan. ada hak publik di sana yang harus dipertanggungjawabkan.
tapi apakah aku harus terus-menerus marah? apakah kepedulian harus selalu diwujudkan dalam kemarahan?
bagiku, kita tetap perlu kritis, mengawasi, dan menuntut transparansi. tapi kita juga perlu tahu kapan harus menyalurkan energi untuk memperjuangkan perubahan, alih-alih membiarkan kemarahan menghabiskan diri kita sendiri.
membayar pajak dengan ikhlas bukan berarti menutup mata terhadap korupsi. menikmati fasilitas publik bukan berarti berhenti mempertanyakan pengelolaannya.
kita bisa tetap peduli tanpa harus hidup dalam kemarahan. yang kita butuhkan bukan sekadar alasan untuk marah, melainkan keberanian untuk terus menuntut perubahan tanpa kehilangan ketenangan dalam menjalani kehidupan~
namaste.
pajak buku 12%
pajak pembalut 11%
pajak kopi 10%
when lu cewe, lagi pms. pesen kopi, sambil baca buku. menyala pajakku