Dua belas tahun lalu, tesis filsafat saya diterbitkan Marjin Kiri. Ini salah satu riset saya yang paling serius, lebih kurang 3 tahun meneliti literatur terkait sejarah pemikiran ekonomi, kritik kapitalisme, dan filsafat ekonomi.
Saya berutang, dan tak akan bisa saya lunasi, pada alm Dr B Herry-Priyono. Tak hanya mengenalkan saya pada Karl Polanyi, beliau juga menjadi pembimbing intelektual yang sabar, telaten, dan brilian.
Ketika mulai menulis tesis ini, krisis finansial global 2008 terjadi. Dan saya merasa menemukan daya profetis karya Polanyi di The Great Transformation. Ia dipengaruhi sekaligus berjarak dengan marxisme. Sosialismenya dekat dengan tradisi Inggris dan tak anti agama. Bahkan ia melihat sumbangan besar agama mengisi ruang kosong antropologi.
Ilmu ekonomi dikembalikan ke akarnya, yaitu tradisi substantif yang dapat dilacak sejak Aristoteles, sebagai bagian mata pencaharian dan sistem sosial. Ungkapan terkenal Polanyi:"Laissez faire is planned."
Ia menyumbang analisis dan konsep penting melalui studi sejarah ekonomi: embeddedness, double movement, dan fictitious commodities. Bahkan di karya lain, Polanyi menengarai lahirnya fasisme sebagai anak kandung liberalisme. Ia hidup sezaman dengan John Maynard Keynes dan Ludwig von Mises. Karyanya terbit hampir bersamaan dengan The Road to Serfdom (Friedrich Hayek) dan Capitalism, Socialism, and Democracy (Joseph Schumpeter).
Kesungguhan merefleksikan tanda2 zaman dan kesanggupan mencari alternatif dan jalan keluar dari kebuntuan adalah tugas sejarah. Hari-hari ini, ketika cuaca dunia sedang disapu gelombang populisme dan keraguan pada demokrasi, barangkali ilmu ekonomi dapat sekali lagi menyumbangkan sesuatu untuk menyelamatkan peradaban.