Di sini terjadi emotional intimacy yang harusnya jadi porsi pasangan, tapi dialihkan ke orang ketiga. Ciri berikutnya ada di interaksi medsos yang lewat batas wajar.
Bukan sekadar saling follow atau kasih jempol biasa, tapi sengaja flirting tipis-tipis, rutin reply story dengan intensi memuji fisik yang menjurus, kirim DM bernada menggoda, atau sengaja pasang konten tertentu cuma demi menarik perhatian orang spesifik itu.
Ada juga kebiasaan sengaja memposisikan diri seolah-olah lajang.
Misalnya sengaja hapus riwayat chat, ganti nama kontak orang lain jadi nama samaran, atau refleks membalik layar HP tiap pasangannya lewat.
Kuncinya ada di rasa butuh untuk menutupi hal itu. Hal lain yang sering terjadi itu pencarian validasi emosional di luar hubungan.
Contohnya lebih milih cerita masalah pribadi, keluh kesah hubungan, atau mimpi-mimpi masa depan ke orang lain ketimbang ke pasangan sendiri.