Maudy tidak berkata “bayi mati dan siswa keracunan itu cuma gangguan mindfulness.” Itu dilebihkan. Di videonya dia bilang kita kebanjiran kabar buruk sampai lumpuh, lalu kasih tips biar tetap waras. Ada doa ke NTT dan Kalimantan juga.
Yang tetap nyangkut: framing-nya. Karhutla, MBG, hutan terbakar dia masukkan ke keranjang yang sama dengan doomscroll politik dan berita dunia. Bagi yang cuma kena di HP, itu “bad news.” Bagi yang hirup asap dan anaknya masuk IGD, itu bukan berita. Itu cuaca dan menu makan siang.
Jadi kritik yang adil bukan “final boss meremehkan mayat,” melainkan: orang berpendidikan kok solusinya diet informasi, bukan desak siapa yang membakar dan siapa yang masak sembarangan. Mindfulness menolong individu. Tidak menolong sistem yang berulang meracuni dan mengasapi warganya.
Komentar “terus harus piye kalau semua berita dimasukkan?” juga benar. Tidak ada yang wajib menelan megathrust, perang, drama seleb, dan KLB setiap jam. Batasi layar itu sehat. Yang tone-deaf adalah menyamakan “aku capek scroll” dengan “mereka capek bernapas.”
Intinya: jangan strawman Maudy sampai seolah dia menari di atas peti mati. Tapi jangan juga pura-pura tips dapur itu jawaban atas negara yang gagal jaga udara dan jaga makan anak.