Dibaca satu-satu biar ga nanya lagi.
- Perempuan wajib ngurus rumah, masak, bersih-bersih, dan ngurus anak, bahkan ketika perempuan jg kerja.
- Cuma laki-laki yg berhak memutuskan keputusan2 penting di rumah karna dianggap kepala keluarga.
- Perempuan dituntut melayani suami, termasuk secara seksual, seolah tubuh dan akses seksual perempuan adalah hak pasangan ga peduli persetujuan perempuan.
- Perempuan yg nolak seks dibilang istri durhaka, sementara consentnya malah diabaikan.
- Perempuan dibebani kontrasepsi dan konsekuensi reproduksi, tp keputusan2 soal tubuhnya sendiri sering ikut dicampuri orang lain.
- Perempuan yg gamau punya anak dianggap egois, ga feminin, dianggap belum lengkap sebagai perempuan.
- Motherhood dianggap kewajiban kodrati perempuan, sdgkn fatherhood dianggap sebagai pilihan atau sekedar bantu istri.
- Perempuan dituntut jaga virginitas, reputasi, cara berpakaian, berat badan, rambut, makeup, dll sementara standar yang sama ga diberlakukan ke laki-laki.
- Victim blaming dlm kasus KS kyk “pakaiannya apa?”, “kenapa keluar malem2?”, “kenapa mau aja diajak?”, bukannya fokus ke pelakunya.
- Kekerasan terhadap perempuan dlm rumah tangga dinormalisasi sebagai “urusan rumah tangga.”
- Laki-laki yg dominan dianggap tegas, perempuan yg dominan malah dibilang galak, judes, atau ga feminin.
- Perempuan yg ambisius dianggap terlalu agresif, sementara laki-laki dg sifat yg sama dianggap punya jiwa leadership.
- Perempuan yg punya karir tp ga mau nikah/beranak dianggap egois, seolah tujuan pendidikan perempuan ujung-ujungnya ttp di kasur sumur dapur.
- Pekerjaan domestik dan mental load sering ga dianggap pekerjaan, padahal ngabisin waktu dan tenaga juga.
- Perempuan diharapkan ngalah, jaga perasaan, dan jadi emotional caretaker dlm hubungan berumah tangga.
- Laki-laki yg ga bisa ngontrol emosi disebut “manusiawi”, tp perempuan yg marah atau shock langsung dicap histeris/emosional.
- Perempuan sering dibatasi soal mobilitas, jam keluar, pergaulan, dan keamanan, trs pas terjadi kekerasan malah perempuan yg ditanya2 dan disuruh belajar.
- Profesi tertentu dianggap “pekerjaan laki-laki”, jd perempuan yg mau masuk hrs buktiin kompetensinya lebih keras.
- Perempuan yg sukses dianggap mengintimidasi laki-laki, sementara keberhasilan laki-laki justru dianggap nilai plus.
- Laki-laki dianggap punya hak buat nentuin seperti apa “perempuan yg baik”, mulai dari pakaian, fisik, perilaku, dll.
- Bahkan ketika perempuan jd pencari nafkah utama, dia ttp dituntut menjalankan peran domestik.
Kak maaf ijin tanya, sebenarnya patriarki seperti apa sih yang bikin kakak gak suka sampai sebegininya? Saya penasaran dan ingin tahu