No Indonesian teachers were employed in Malaysia in 1968. 62 were only offered positions in early 1969.
Meanwhile, 13,951 Indonesians were working as buruh in Sabah alone by 1968.
Needing workers ≠ being “tertinggal”. There’s a difference.
Dulu tahun 1960-1980an, Malaysia mendatangkan guru dan dosen dari Indonesia karena pendidikannya tertinggal.
Sekarang pendidikan di Malaysia semakin maju, beberapa universitas masuk top 100 terbaik di dunia.
Beberapa keunggulan Malaysia saat ini:
• Kekuatan paspor. Malaysia peringkat ke-7 dunia dengan akses sekitar 183 destinasi, sedangkan Indonesia peringkat ke-69 dengan sekitar 70 destinasi (Henley Passport Index 2026).
• Nilai mata uang. 1 ringgit Malaysia bernilai sekitar Rp4.405.
• Pendapatan per kapita. Malaysia sekitar US$13.125, sedangkan Indonesia sekitar US$5.060 pada 2025.
• Harapan hidup. Malaysia sekitar 77 tahun, sedangkan Indonesia sekitar 71 tahun (data 2024).
• Industri semikonduktor dan elektronik. Malaysia lebih mapan dalam perakitan, pengujian, dan manufaktur elektronik tertentu.
• Infrastruktur perkotaan. Malaysia relatif unggul dalam sejumlah aspek transportasi dan fasilitas perkotaan terutama transum.
• Daya beli dan kesejahteraan. Pendapatan per kapita Malaysia yang lebih tinggi menunjukkan kapasitas ekonomi rata-rata per penduduk yang lebih besar.