Jawaban Niluh Djelantik soal pernyataan AWK soal tip dan bantahan warga Bali jika tip wisatawan lokal lebih banyak dari bule.
Niluh Djelantik: jangan jadi pemuja bule.
Selengkapnya 👇
TIP itu memang bagian dari etika tapi bukan alasan kita pilih-pilih customer. Di banyak bidang usaha, tip sudah jadi bagian dari service charge yang ditentukan (ditagih barengan dengan pajak resto/hotel). Di beberapa jenis usaha tip adalah salah satu cara wisatawan menghargai jerih payah pelaku pariwisata tergantung dari kualitas pelayanan yang diberikan. Sebelum memberikan tip sudah ada harga pelayanan yang dibayar. Jadi tip bukan pembayaran utama.
Wisatawan berhak mendapatkan pelayanan ramah, profesional. Bali ada untuk semua. Pariwisata menjadi tulang punggung Bali menopang sektor-sektor lainnya.
Wisatawan lokal berbelanja, menginap, sewa/naik transportasi, makan, semuanya pakai rupiah tidak pakai daun.
Jangan menjadi pemuja bule seolah hanya bule yang royal dan ngasi tips sambil bawa dollar. Di Bali banyak bule kere tinggal di kos-kosan, beli nasi bungkus ngantre bareng warga lokal, kalau ke cafe cuma pesan air putih tapi nongkrong berjam-jam (bahkan banyak bawa bekal dari luar) dan tidak sedikit dari mereka kerja ilegal yang menjadi fokus kami melakukan bersih-bersih, bekerja sama dengan Imigrasi dan Kepolisian.
Kita memerlukan wisatawan yang sayang pada Bali, yang menikmati Bali dengan nyaman dan aman, berapapun budget yang mereka punya harus tetap kita layani dengan baik.
Jangan satu statement menyesatkan kemudian bikin Bali kembali sepi.
Berkaca pada pandemi di mana semua negara lockdown. Wisatawan lokal lah yang menyelamatkan kita.
Dan ternyata pejabat rasis Bali itu adalah pendukung Gibran.
Jangan-jangan dia terus angkat isu boikot Bali untuk pengalihan isu karena di MK terbukti Gibran nggak punya ijazah setara SMA.😁
Kalau begitu kita ramaikan terus keduanya.
Satu rasis, satu nggak punya ijazah SMA.🔥