Sebelum kalian bilang korupsi pejabat itu warisan orde baru, baca ini dulu. Tahun 1860, terbit buku yang membongkar bupati di Banten merampas kerbau rakyatnya sendiri demi setoran ke atasan.
Dan yang dit3lanj4ngi di buku ini bukan cuma penjajah Belanda, tapi pejabat pribumi yang menindas bangsanya sendiri.
.
Multatuli, nama pena dari Eduard Douwes Dekker, pernah menjabat asisten residen di Lebak, Banten. Tahun 1856 ia menulis laporan resmi soal kejahatan bupati setempat, bukan dugaan, bukan gosip, tapi hasil investigasi yang kemudian terbukti benar adanya.
Dari pengalaman pahit itu, lahirlah novel yang mengguncang Eropa empat tahun kemudian.
.
Bupati Lebak saat itu, Raden Tumenggung Adipati Karta Natanegara, terbukti memeras rakyatnya lewat kerja paksa, uang, dan ternak tanpa ganti rugi yang layak.
Salah satu anak buahnya, demang Parangkujang, bahkan merampas satu-satunya kerbau milik petani miskin, padahal kerbau itu nyawa keluarga yang menggantungkan hidup dari sawah.
.
Kisah Saidjah dan Adinda dalam novel ini merekam luka itu lewat fiksi. Kerbau milik ayah Saidjah pernah menyelamatkannya dari terkaman harimau, lalu dirampas begitu saja oleh pejabat setempat.
Keluarganya jatuh miskin, Saidjah pergi merantau mencari keadilan yang sampai akhir cerita tak pernah benar-benar datang.
.
Havelaar coba membujuk bupati baik-baik, gagal. Ia melapor ke atasannya, sampai ke gubernur jenderal, berharap keadilan ditegakkan.
Yang terjadi malah sebaliknya, ia disingkirkan dari jabatannya karena dianggap mengganggu ketertiban dan stabilitas dagang kolonial. Sistem lebih sibuk menjaga muka daripada membela rakyat kecil yang sudah lama menderita.
.
Novel ini akhirnya memicu rasa bersalah orang Belanda, lahirlah politik etis dan undang-undang agraria 1870. Bahkan jadi salah satu bacaan yang menginspirasi Soekarno dan tokoh pergerakan lainnya.
Tapi coba pikir, kalau sistem yang melindungi pejabat korup sudah ditulis sejak 1860, kenapa pola yang sama masih kita lihat hari ini.